Senin, 25 Juli 2011

Yang disebut Khusyuk Dalam Shalat

   Seorang sahabat mengadu kepada Rasulullah, bahwa kalau mengerjakan shalat tidak dapat khusyuk sepenuhnya. Sering kali ia masih teringat akan hal-hal lain, termasuk urusan rumah tangga, utang dsb. "Tidak ada orang yang dapat sempurna dan khusyuk sepenuhnya dalam mengerjakan shalat dari awal hingga akhir." 
   "Saya bisa, ya rasulullah," tiba-tiba Ali bin Abi Thalib menyela.
Betul? tanya Rasulullah. "Benar, Rasulullah," jawab Ali bin Abi Thalib dengan penuh yakin. "Jika memang benar kau dapat sempurna dan khusyuk dari awal hingga akhir, akan kuberikan surbanku yang terbaik sebagai hadiah untukmu," janji Rasulullah.
   Kemudian Ali bin Abi Thalib mengerjakan shalat sunnah dua rakaat, terlihat dia mengerjakannya dengan penuh kekhusyukan. Setelah selesai ia ditanya oleh nabi : "Bagaimana? Kau bisa mengerjakannya dengan khusyuk dan sempurna?"
   "Pada rakaat yang pertama, saya mengerjakannya dengan khusyuk," jawab Ali dengan muka murung, "Dan pada rakaat yang kedua, ketika sujud yang terakhir saya tetap khusuk hingga duduk tasyahud. Namun ketika mendekati salam, barulah hati saya berubah, teringat akan janjimu, ya Rasulullah, bahwa engkau akan memberikan hadiah surban terbagus milikmu untuk saya. Maka rusaklahkekhusyukan shalat saya."
   "Hal ini terjadipula dengan yang lain," ujar Nabi. "Sebab khusuk itu diukur oleh allah sebatas kemampuan manusia.yang penting,ketika pikiranmu terbawa kepada urusan lain, cepat-cepat kembalikan kepada shalatmu lagi. Dalam mengerjakan shalat memang hendaknya seakan-akan kita mampu, asalkan kita ingat bahwa Allah melihat kita, itu sudah memadai."
  Mendengar penuturan Rasulullah, Ali bin Abi Thalib mengangguk-angguk. meskipun masih berusia muda, namun ia memiliki ilmu dan ketaatan yang terpuji. Ali mempunyai keistimewaan khusus, sebagaimana pernah dikatakan rasulullah, jika beliau di ibaratkan gudang, maka Ali adalah pintu gerbangnya.
    Misalnya, Ali pernah ditanya, berapakah kecepatan kilat tatkala menyambar. Dengan cepat ia menjawab "Tidak lebih cepat dai doa seseorang mahluk yang dikabulkan oleh Allah." Dan ketika ditanya lagi, "Berapa jauhkah jarak antara Masyrik dengan Magrib, atau antara timur dengan barat?" "Tidak lebih jauh dari jarak terbit dan tenggelamnya matahari." jawab Ali.
      "Kapankah nikmatnya tidur? " tanya yang lain pula.
"Tak ada nikmatnya," jawab Ali. "Sebab bila kujawab sebelum tidur, bagaimana dapat merasakan nikmatnya tidur kalau belum melakukannya, jika kujawab setelah bangun tidur, bagaimana akan dapat ku gambarkan sesuatu yang sudah lewat? Sedangkan jika kujawab saat dalam keadaan tidur, bagaimana mungkin seorang dalam keadaan tidur merasakan nikmatnya tidur? Karena itu janganlah terlalu banyak tidur hingga berlebihan, sebab hidupmu akan pendek, meski umurmu cukup panjang. Bukan kah orang yang dapat merasakan dirinya hidup adalah saat mereka dalam keadaan sadar? Sedangkan, tidur sama dengan tidak sadar. Jadi bagaimana bisa dikatakan hidup, kalau bukan orang lain yang mengatakannya?" 
    Pada kesempatan lain, Rasulullah menyuruh para sahabat membaca Al-Qur'an sampai khatam. Semua dengan tekun mengerjakan, hingga beberapa lama. Tapi anehnya Ali cuma komat kamit sebentar lalu berhenti dan diam.
    Ketika semuanya sudah selesai, Nabi bertanya kepada Ali : "Kenapa engkau tidak membaca sampai khatam?" "Sudah sejak tadi, ya Rasulullah," Jawab Ali. "Cepat sekali? rasanya mustahil," Sanggah nabi. "Bukankah engkau pernah mngatakan, bahwa kandungan surat al ikhlas itu sama dengan sepertiga isi Al-Qur'an," sambung Ali
 Rasulullah tersenyum mendengar jawaban Ali bin Abi Thalib.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer

Pengikut